I. INTRODUCTION

Education is fundamentally very important part in life. It distinguishes man with other living organisms, namely man as creature who has ethics and believes in God. In the fact human being is two-in-one creature that is composed of physical body and spirit, and in its spirit itself still includes two souls again, as individual and social being. In classical view about education, in general education is said to be an instrument that can execute three functions at once. First, it prepares young generation to hold certain roles in the future. Second, it transfers knowledge in accordance with the roles expected. Third, it transfers values in order to maintain integrity and unity of societies as prerequisite for the survival of the community and civilization. On the second and third parts above are giving understanding that education is not only "transferring knowledge" but also is "transferring value". Thus, education can be the helper for mankind.

Any activity that human wants to do to achieve progress is generally associated with how the condition of it was in the past. It is the same case as in education. The history of Indonesian education is not separated from view to the past that had been breeding the historical studies about the process of Indonesian national educational development that happened at a particular period in the past. In other words, the history of education is an ingredient of comparison to advance education of a nation. History has given lighting, example, and model for humans, and it is expected to be able to increase their own civilization better and better in the present and the future.

As education is very important, it is always associated with the progression and deterioration of a nation by noticing how farther the nation care about the education of its people, because education can steer the nation toward a better future, though sometimes what they planned have not been in accord with the expected target. Based on the Act No. 2 of 1989 and law No. 20 of 2003, it was formulated that National education goals must include cognitive (of or relating to cognition; intelligence), psychomotor (of or relating to the origination of movement in conscious mental activity; skill) and affective (of or relating to moods, feeling and attitudes) aspects. These three aspects have to be owned by every student and are taught by each institution which is active in education field.

Generally, humans are not detached from their respective experiences. In the aspect of experience (empirical data), there is a view that in fact science is the work of the human based on experience of their life. By the experience of human life, it is often viewed as the only element that causes the formation of knowledge. Empirical element existing in the education process is the element that is intimately connected with the human’s experience, where in its education practice is heavily dependent on the natural process. The process is an element of experience that is always identical to the sensory knowledge which is certainly not only obtainable by element of the cognitive, but affective or psychomotor aspects are far more important as well. Both these elements, either affective or psychomotor one, are the empirical elements which always appear in the educational process. Creativity and the application of a wisdom are also the series of educational process. Knowledge acquired merely through theory is not enough, but it must be complemented with field experience or practice.

Thus if all aspects above are practiced in every aspect of human life, so the prosperity will be achieved in so many areas of life, either in the family environment or in the society and the nation. For those all reasons and through long process, Quanta Indonesia makes a new breakthrough and creates a new paradigm of learning process especially in English in the simple and easy ways without having to leave the aspects mentioned above. Its program is “Level Quanta Mastering English”, and its method is named “Learning English Through Subconscious- Installing Method (LETS-IM) “.

Learning English Through Subconscious-Installing Method (LETS-IM) is a new breakthrough in the English learning method focused on the digitizing process on wisdom in the energy level. Subconscious mind is the vital component of the mind which plays very important roles in the learning process, but it is oftentimes neglected in its success in the learning process. In this area the function of memory is permanent and is as the location where the skill and wisdom in the automatic level is recorded and kept. Technically, the learning process in this program makes the learners to be in the most optimal condition (super learners) to master wisdom. In this condition, subconscious mind is the most dominant to do its work to absorb all information genially and fully, without interruptions done by critical and analytical thought. The functions of the critical and analytical thought are minimized here. Thus the learners will learn without being tense, focus without having burden, and feel enjoyable. They do not include their analytical critical conscious thought too seriously. Unconsciously the learners will experience subconscious-installing phenomena that result in absorbing and the very high mastering about the given information. Due to the processing is done in subconscious, lots of learners will be surprised when they find the fact that they can result in such good output in the level of high mastery on what they learn. They are suddenly able to master them without very hard learning process and burdening mind.

INTRODUKSI

Pendidikan adalah pada dasarnya merupakan bagian yang sangat penting didalam kehidupan. Ia membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya, yaitu manusia sebagai mahluk memiliki etika dan beriman kepada Tuhan. Pada hakikatnya Manusia adalah mahluk dwi tunggal yang terdiri atas jasmani dan rohani, dan dalam rohaninya sendiri masih mencakup dua jiwa lagi, yaitu sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Dalam pandangan klasik tentang pendidikan, secara umum pendidikan dikatakan sebagai instrumen yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Pada bagian kedua dan ketiga diatas memberikan pengertian bahwa pandidikan bukan hanya “transfer of knowledge” tetapi juga “transfer of value”. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong bagi umat manusia.

Kegiatan apa saja yang manusia ingin lakukan untuk mencapai kemajuan pada umumnya terkait dengan bagaimana keadaannya pada masa yang lampau. Sama halnya dengan pendidikan. Sejarah pendidikan Indonesia tidak terlepas dari pandangan ke masa lalu yang melahirkan studi-studi historis tentang proses perjalanan perkembangan pendidikan nasional Indonesia yang terjadi pada periode tertentu di masa yang lampau. Dengan kata lain, sejarah pendidikan merupakan bahan perbandingan untuk memajukan pendidikan suatu bangsa. Sejarah telah memberi penerangan, contoh, dan teladan bagi manusia, dan itu diharapkan akan dapat meningkatkan peradaban mereka sendiri menjadi lebih baik lagi di masa kini dan masa yang akan datang.

Karena pendidikan sangat penting, pendidikan selalu dikaitkan dengan maju dan mundurnya suatu bangsa dengan melihat sejauh mana bangsa tersebut memperhatikan pendidikan rakyatnya, karena pendidikan bisa mengarahkan bangsa kearah suatu masa depan yang lebih baik, meskipun terkadang apa yang mereka rencanakan belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Berdasarkan Undang-undang No.2 tahun 1989 maupun UU No. 20 tahun 2003, dirumuskan bahwa tujuan pendidikan Nasional harus mencakup aspek kognitif (mengenai atau berhubungan dengan kesadaran; kecerdasan), psikomotorik (mengenai atau berhubungan dengan asal mula pergerakan dalam aktifitas mental sadar; skill), dan afektif (mengenai atau berhubungan dengan keadaan suasana hati, perasaan dan sikap). Ketiga aspek tersebut harus dimiliki oleh setiap peserta didik dan diajarkan oleh setiap lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Secara umum, manusia tidak terlepas dari pengalamannya masing–masing. Dalam aspek pengalaman (data empiris), ada pandangan bahwa pada hakekatnya ilmu adalah hasil karya manusia yang didasarkan atas pengalaman hidupnya. Dengan pengalaman hidup manusia itulah, sering dipandang sebagai satu-satunya unsur yang menyebabkan terbentuknya ilmu. Unsur empiris yang ada dalam proses pendidikan merupakan unsur yang erat kaitannya dengan pengalaman manusia, dimana dalam pelaksanaan pendidikannya sangat bergantung pada proses alamiah. Proses tersebut merupakan unsur pengalaman yang selalu identik dengan pengetahuan inderawi yang tentunya tidak bisa didapat hanya dengan unsur kognitif saja, tetapi aspek afektif dan psikomotorik adalah jauh lebih penting juga. Kedua unsur tersebut, baik unsur afektif maupun psikomotorik, adalah merupakan unsur empiris yang selalu tampil dalam proses pendidikan. Kreatifitas dan aplikasi dari suatu ilmu adalah juga merupakan rangkaian proses pendidikan. Ilmu yang didapat secara teori saja tidak cukup, namun harus dilengkapi dengan pengalaman lapangan atau praktek.

Dengan demikian kalau semua aspek diatas tersebut diperaktekkan dalam setiap aspek kehidupan manusia, maka kesejahteraan akan tercapai dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam masyarakat dan bangsa. Dengan alasan itu semua dan melalui proses yang lama, Quanta Indonesia melakukan sebuah terobosan baru dan menciptakan paradigma baru tentang proses pembelajaran khususnya dalam bahasa Inggris dengan cara yang sederhana dan mudah tanpa harus meninggalkan aspek–aspek yang tersebutkan diatas. Programnya adalah “Level Quanta Mastering English” dan metodenya bernama “Learning English Through Subconscious-Installing Method (LETS-IM)”.

Learning English Through Subconscious-Installing Method (LETS-IM) adalah sebuah terobosan baru dalam metode pembelajaran bahasa Inggris yang berfokus pada proses pendigitalisasian pada keilmuan di level energi. Otak bawah-sadar merupakan komponen penting dari otak yang memegang peranan sangat penting dalam proses pembelajaran, namun ia seringkali terlupakan dalam keberhasilannya dalam proses pembelajaran. Di bagian inilah fungsi memori permanen dan merupakan lokasi dimana keahlian dan keilmuan pada tingkatan otomatis terekam dan tersimpan. Secara teknis, proses pembelajaran dalam program ini membuat pelajar berada dalam kondisi yang paling optimal (super learners) untuk menguasai keilmuan. Pada kondisi ini, otak baw ah-sadarlah yang paling dominan untuk melakukan tugasnya menyerap semua informasi secara nyaman dan utuh, tanpa banyak gangguan yang dilakukan oleh pikiran kritis dan analitis. Fungsi-fungsi pikiran kritis dan analitis diminimalkan disini. Dengan demikian peserta didik akan belajar dengan santai, fokus tanpa beban, dan merasa nikmat. Mereka tidak melibatkan pikiran analisis kritis sadar mereka terlalu serius. Tanpa disadari peserta didik akan mengalami fenomena instalasi bawah-sadar yang menghasilkan pada penyerapan dan penguasaan yang sangat tinggi tentang informasi yang diberikan. Karena prosesnya dilakukan dibawah-sadar, banyak peserta didik akan heran ketika mereka menemukan kenyataan bahwa mereka mampu menghasilkan hasil yang sedemikian bagus dalam tingkat penguasaan yang tinggi terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka tiba-tiba bisa menguasainya tanpa proses pembelajaran yang sangat berat dan membebani pikiran.